JANGAN BIARKAN HATI ANDA DIGEROGOTI OLEH HASAD

Hasad (dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang si penderita dan meracuninya,membuat dia benci terhadap kenikmatan yang diperoleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya. Penyakit ini sering dijumpai diantara sesama teman sejawat, seprofesi, seperjuangan, atau sederajat. Oleh karena itu, tidak jarang dijumpai ada pegawai kantor yang hasad kepada teman sekantornya. Tukang bakso hasad kepada tukang bakso lainnya, guru hasad kepada guru,Ustadz atau Kyai hasad kepada yang sederajat dengannya. Jarang dijumpai hasad tersebut pada orang yang beda kedudukan dan derajatnya, seperti tukang bakso hasad kepada Kyai, atau tukang becak hasad kepada Ustadz, meskipun tidak menafikan kemungkinan terjadinya. Malapetaka dan bahaya hasad Orang yang hasad secara sadar atau tidak telah terjatuh dalam beberapa bencana,diantaranya: 1.Membenci takdir Allah azza wajalla,karena apabila dia benci terhadap apa yang Allah berikan terhadap orang lain maka pada hakekatnya dia telah membenci takdir tersebut. 2.Hasad merupakan sifat sebagian besar Yahudi dan Nasrani, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Ataukah mereka (orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad dan orang-orang Mukmin) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisaa’: 54) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang Muslim dari sifat hasad tersebut, beliau bersabda: “Janganlah kalian memutuskan tali persaudaraan, saling berpaling ketika bertemu dan saling membenci serta saling dengki. Jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Shahih Muslim juz 8 hal. 10) Sebab-sebab Hasad Sumber dari penyakit hasad adalah cinta dunia, baik cinta harta benda, kedudukan, jabatan, maupun pujian manusia. Jika tujuan seseorang adalah akhirat, maka hatinya bersih dari hasad, tenang, jernih, seperti air yang memancar dari mata air pegunungan, lembut bagaikan sutera,...

SEJENAK MERENUNGI HAKIKAT SEBUAH MUSIBAH

Apabila kita menyelami lebih dalam tentang hakikat sebuah musibah ataupun cobaan, maka kita akan mendapatinya tidak hanya memiliki paras yang buruk saja, akan tetapi ia terkadang datang dalam wujud yang membuat orang terbuai karenanya. Allah berfirman yang artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan di kembalikan hanya kepada kami”. [QS. Al-Anbiyaa’:35] Tentang ayat ini Ibnu Abbas berkata: “kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan”. [tafsir Ibnu jarir at-Thabari] Maka tidak mengherankan apabila para salaf terdahulu mengabaikan sebagian nikmat duniawi karena takut merusak nikmat ukhrawi yang akan mereka peroleh kelak. SIKAP SEORANG MUSLIM MANAKALA DITIMPA MUSIBAH Seorang muslim sejati akan selalu mengembalikan setiap perkaranya kepada al-Qur’an dan sunnah termasuk ketika musibah datang menyapanya. Berikut keterangan dari beberapa sunnah Nabi tentang hal ini: Bersabar Rasulullah bersabda yang artinya: “sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya”. [HR. Muslim] Ridha Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam bersabda yang artinya: “sesungguhnya besar pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan”. [HR. Tirmidzi dan Ibnu majah] Istirjaa’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan berdo’a Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam bersabda yang artinya: “tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu...

KEWAJIBAN SEORANG PAHLAWAN

Petani adalah pekerjaan mulia yang menjadi tumpuan dalam kehidupan ini. Petani memiliki peran yang besar dalam perputaran roda kehidupan, hampir semua makhluk hidup terutama manusia berutang budi pada petani, maka sangat pantas jika para petani diberi gelar HERO OF THE WORLD atau pahlawan dunia. Islam, sebagai agama yang paling peduli dengan masalah sosial, hadir sebagai agama yang paling menghormati petani. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menanam pohon atau menabur benih, kemudian hasilnya dimakan oleh manusia, burung, binatang buas ataupun yang melata, maka pemiliknya mendapat pahala sedekah darinya.”(HR. Ahmad, shahih) Masya Allah, begitu enak jadi seorang petani, setiap hari mendapatkan kucuran pahala sedekah karena tanamannya yang dinikmati oleh makhluk hidup, yang mungkin ia sendiri tak menyadarinya. Namun disamping anugerah tersebut, Allah juga memberikan satu kewajiban pada petani berkaitan dengan hasil panennya. Sebab, sudah menjadi hukum alam atau takdir kauni Allah Ta’ala, Allah menjadikan kehidupan ini beragam, ada yang senang ada juga yang susah, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada kuat ada lemah, ada sehat ada sakit dan seterusnya. Karena itu tidak semua orang punya kesempatan baik karena faktor skil(kemampuan) , dana, tempat, ataupun kekurangan yang ada pada tubuh (cacat). Untuk mengatasi masalah sosial ini, Islam memberikan satu solusi yang menguntungkan bagi semua yaitu zakat. Semua kita yakin, zakat hukumnya wajib dan merupakan salah satu syarat seorang dianggap muslim karena ia salah satu rukun Islam. dan pada tulisaan kali ini, penulis tidak akan membahas seluruh persoalan zakat, melainkan terbatas pada masalah kewajiban zakat hasil pertanian.   Apa saja yang wajib dizakati oleh petani? Berkata Imam Nawawi rahimahullah : Bahwa hasil pertanian yang wajib dizakati adalah adalah...

MENDULANG PELAJARAN DARI SURAT AL-KAUTSAR

  Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di tengah-tengah para sahabatnya di masjid Nabawi. Tiba-tiba beliau terlelap sesaat kemudian ia terbangun mengangkat kepalanya sembari tersenyum. Para sahabat pun bertanya, “Apa yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tadi, sebuah surat turun kepadaku.” Lantas, beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberimu Al-Kautsar, kebaikan yang banyak. Maka, sholatlah hanya untuk Tuhan-mu dan menyembelihlah (untuk-Nya). Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus dari kebaikan.” (QS. Al-kautsar: 1-3). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian, apa itu Al-Kautsar?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau menjelaskan, “Al-Kautsar itu adalah sebuah sungai yang dijanjikan Allah untukku. Di dalamnya terdapat kebaikan yang sangat banyak. Ia adalah sebuah telaga. Umatku akan mendatanginya pada hari kiamat. Bejananya sebanyak bintang-bintang di langit. Waktu itu, seorang hamba dari mereka dihalau darinya.” Maka, aku pun berseru, “Ya Robbi, dia juga termasuk umatku.” Maka Allah Ta’ala pun berkata, “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” (HR. Muslim) Siapa di antara kaum muslimin yang tidak menghafal surat ini? Bahkan anak-anak TPA pun menghafal surat ini. Pun, para imam shalat tarawih di bulan Ramadan tak pernah luput membacanya. Secara sederhana, makna surat ini adalah: wahai Muhammad, sebagaimana Allah telah memberimu kebaikan yang melimpah di dunia dan di akhirat, baik berupa Telaga Al-Kautsar di surga dan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Maka sembahlah Allah semata sebagai bentuk syukurmu kepada-Nya. Shalatlah hanya untuk-Nya dengan memurnikan niatmu hanya untuk Allah. Dan menyembelihlah hanya untuk-Nya. Ikhlaskan segala bentuk ibadahmu hanya semata-mata untuk Allah dan karena-Nya. Jangan pernah...

ANEKA MACAM SURAT AL-FATIHAH

  Dalam bahasa Arab banyak nama itu menunjukkan kemuliaan sesuatu yang dinamai dan menjelaskan kesempurnaannya. Misalnya saja kata asad (singa) memiliki beragam nama dalam bahasa Arab, karena hal itu menunjukkan kekuatannya yang besar. Berbagai macam nama hari kiamat dalam Al-Qur’an juga mengisyaratkan besarnya perkara dan dahsyatnya hari tersebut. Tak terkecuali surat al-Fatihah. Surat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari semalam ini memiliki banyak nama. Semua ini menjelaskan keagungan dan kedudukan surat ini dalam islam, bahkan membacanya pun menjadi rukun dalam shalat yang tidak sah shalat itu tanpa membacanya. Al-Fatihah memiliki nama-nama lain, sebagian di antara nama-nama tersebut adalah; * As-Sab’ul Matsani wal Qur’an al-’Azhim Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Kami telah memberikan kepadamu as-Sab’ul Matsani (tujuh yang diulang-ulang) dan Al-Qur’an al-Azhim (bacaan yang sangat agung).” (QS. al-Hijr: 87). * Fatihatul Kitab Penamaan ini tidak diperselisihkan di kalangan ulama dikarenakan Al-Qur’an memang dimulai dengannya, dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya, “Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim) * Ummul Kitab Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Setiap shalat yang tidak dibacakan didalamnya Ummul kitab (surat al-Fatihah) maka ia kurang, ia kurang dan tidak sempurna.” ( HR. Ahmad dan lainnya, shahih) Hal itu juga sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu’anhu, yang di dalamnya dia mengatakan yang artinya, “… Dan tidaklah aku meruqyah melainkan dengan membaca Ummul Kitab.” (HR. Bukhari dan Muslim) * Ummul Qur’an Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya, “Ummul Qur’an itu adalah Sab’ul Matsani -tujuh ayat yang selalu diulang-ulang- dan Al-Qur’an yang agung yang...

BAHAYA BICARA TANPA ILMU

Mempelajari ilmu agama merupakan perkara yang sangat penting bagi setiap muslim dan muslimah. Karena dengan mempelajari ilmu agama tersebut seseorang akan semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah,sebagaimana firmanNya,yang artinya:”Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(Q.S Al-mujadilah:11). Agama adalah apa yang telah Allah sebutkan dalam al qur`an dan apa yang disabdakan Nabi shalallahu `alaihi wasallam di dalam sunnahnya.Oleh karena itu berbicara masalah agama tanpa ilmu merupakan kebodohan yang sangat berbahaya dan akan menimbulkan kerusakan yang sangat.Alangkah banyaknya orang melakukan hal ini terlebih pada zaman sekarang ini,sehingga mereka tersesat dari jalan yang benar dan menyesatkan orang lain. Diantara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu: 1.Berbicara masalah agama tidak berdasarkan ilmu yang benar merupakan kesesatan yang nyata dan menyesatkan. Imam ibnu `abdil bar didalam kitabnya”jami`ul bayan al-`ilmia fadhlihi ”,membuat satu bab(keterangan yang ada tentang celaan bagi orang yang berbicara masalah agama dengan akal,persangkaan,atau dengan qiyas yang tidak memiliki dasar dan tercelanya memperbanyak masalah-masalah dengan tanpa perhatian,kemudian beliau menyebutkan hadits berikut ini: “Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hambaNya sekaligus,akan tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama`.Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, akhirnya orang-orang akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh,lalu mereka ditanya tentang suatu masalah kemudian mereka berfatwa(member jawaban) tanpa ilmu,sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”(HR.Bukhari:100). 2.Berbicara masalah agama tanpa ilmu merupakan sikap mengikuti hawa nafsu. Imam Ali bin abil `izzi al hanafi dalam syarh at thohawiyah beliau berkata:”Barangsiapa berbicara tanpa ilmu maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa nafsunya.Allah `azza wa jalla berfirman,yang artinya:”Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya...