PMB 2016/2017

KAMPUS BERBAHASA ARAB STDI IMAM SYAFI’I TELAH MEMBUKA PENDAFTARAN MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2016/2017     1. PROGRAM I’DAD LUGHOWI UNTUK MAHASISWA DAN MAHASISWI : Program satu tahun (I’dad A): Mempersiapkan calon mahasiswa-mahasiswi untuk dapat aktif masuk perkuliahan Berbahasa Arab. Kurikulum yang digunakan adalah Silsilatu al-Lughoh al-‘Arobiyah dari semester 3, dengan penambahan materi-materi dasar keilmuan Islam. Program dua tahun (I’dad B): Belajar Bahasa Arab dari nol dengan menggunakan kurikulum Silsilatu al-Lughoh al-‘Arobiyah dari awal, dengan penambahan materi-materi dasar keilmuan Islam.   2. ILMU HADITS UNTUK MAHASISWA DAN MAHASISWI : Program Studi S1 yang mengkonsentrasikan kajian ilmiah secara komprehensif tentang hadits baik riwayah maupun dirayah. Sehingga menjadi program studi yang terkemuka dalam melahirkan sarjana hadits dan ilmu hadits yang ahli dan profesional. Profil lulusan Prodi Ilmu Hadits : Menjadi Muhadits Muda. Menjadi Akademisi, Peneliti dan praktisi di bidang hadits dan ilmu hadits. Menjadi Dai, pendidik dan Penerjemah hadits.   3. AHWAL SYAKHSIYYAH KHUSUS MAHASISWA : Program Studi S1 yang berada dalam rumpun ilmu syariat dengan pendidikan yang fokus pada ilmu fiqih hukum perdata Islam. Sehingga menjadi program studi Ahwal Syakhshiyah terkemuka dalam melahirkan sarjana Hukum Perdata Islam yang profesional. Profil lulusan Prodi Ahwal Syakhsiyyah : Menjadi praktisi hukum perdata Islam. Menjadi Konsultan hukum perdata Islam. Menjadi pendidik hukum Islam. Menjadi hakim agama. Menjadi Advokat syariah. Menjadi peneliti hukum perdata Islam.   KEUNGGULAN PERKULIAHAN : Mengadopsi Kurikulum Universitas Islam Madinah Pengantar perkuliahan menggunakan Bahasa Arab Kajian dan halaqoh ‘Ilmiah Para dosen (S3, S2, S1) Alumni Arab Saudi dan Indonesia Kegiatan Ekstrakurikuler kemahasiswaan Fasilitas : Perpustakaan, Fasilitas Olahraga, Laboratorium dengan internet gratis, Asrama, dll.   TENAGA PENGAJAR : Muhammad Arifin Badri, M.A....

BAIT-BAIT HIKMAH

Sudah menjadi kelaziman bahwa seorang pengemban risalah, baik itu seorang nabi ataupun rasul dibekali mu’jizat, agar umat yakin akan kenabian dan kerasulan seorang utusan. Seperti nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam beliau dianugrahi mu’jizat yang sangat besar, salah satunya isro’ wa mi’roj. Allah memperjalankan nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dengan sebuah perjalanan yang begitu menakjubkan, yang dimulai dari masjidil haram, menuju masjidil aqsha, kemudian menuju langit yang tujuh, sidratul muntaha, baitul ma’mur hingga bertemu dengan Allah, untuk menerima perintah shalat. Sebuah perjalanan yang belum pernah di alami oleh manusia manapun di muka bumi ini, pengalaman yang sarat akan hikmah terkandung di dalamnya. Terkandung di dalamnya untaian-untaian faidah yang dirajut menjadi bagian dari kesempurnaan syariat agama. Dengannya manusia diuji, siapa yang benar-benar beriman, siapa yang ragu-ragu dengan keimanannya dan siapa yang hanya bersandiwara bermuka dua, dengannya pula orang-orang kafir semakin bertambah kesesatannya setelah mendengarkan pristiwa tersebut, mereka menolak dan mendustakan kebenaran dengan penolakan yang keras, dan bukan saja menolak, bahkan mengolok-olok, serta menerbarkan hasutan yang menyuburkan keraguan di dalam hati manusia yang masih terlalu rapuh keimanannya. Padahal telah datang bukti yang menguatkan kebenaran pristiwa tersebut, namun hal itu malah semakin membuat mereka jauh dan berpaling dari kebenaran. Di tengah-tengah penolakan dan hujatan mereka yang tertutup hatinya, Allah turunkan hidayah-Nya kepada insan berhati lembut dan yang berjiwa mulia, semulia intan-permata, yang senatiasa menerima kebenaran. Abu Bakar, adalah salah seorang sahabat beliau yang serta merta menerima dan membenarkan pristiwa tersebut seketika mengatahui bahwa berita tersebut benar-benar datang dari nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam. Sikap dan tindakan Abu Bakar yang spontan membenarkan perkataan beliau, menunjukkan betapa tingginya keimanannya terhadap apa yang disampaikan oleh...

MALAIKAT SAJA TIDAK MALU

  Banyaknya para dai saat ini seperti angin sepoi-sepoi di hari yang panas. Keberadaan mereka bak oase di padang gersang yang mampu menghilangkan dahaga, hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang mulai melek untuk mendalami agamanya. Masyarakat mulai menanyakan permasalahan agama yang dihadapinya. Hal tersebut selaras dengan firman Allah yang artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS An-Nahl: 43) Memang selayaknya bagi ahli ilmu atau para dai menjadi wadah bagi masyarakat untuk menanyakan permasalahan agama, bahkan Allah Ta’ala sudah memerintahkannya sendiri pada ayat di atas. Akan tetapi seorang dai mempunyai etika dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Salah satu etika yang harus diperhatikan adalah, berani mengatakan “Saya tidak tahu”, ketika ia memang tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Jangan pernah malu untuk mengakui bahwa ia belum memiliki ilmu atas pertanyaan tersebut. Mahluk Allah yang paling taat, yaitu para malaikat, tidak merasa malu mengakui ketidaktahuannya ketika disuruh menyebutkan nama-nama benda. Hal itu diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang artinya, “Mereka menjawab: Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah : 32) Tentunya bagi manusia, terlebih-lebih lagi seorang dai lebih pantas untuk mengatakan “Saya tidak tahu”. Karena hal itu lebih selamat baginya, dibandingkan apabila ia menjawab tanpa ilmu sehingga mengakibatkan efek yang parah dikemudian hari. Abdurrahman bin Mahdi ketika menceritakan tentang Imam Malik, beliau berkata, “Kami pernah di sisi Malik bin Anas. Lalu datanglah seorang lelaki dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, aku mendatangimu dari daerah yang berjarak 6 bulan perjalanan. Penduduk negeriku telah menitipkan...

GERHANA

Masyarakat Indonesia telah meyaksikan fenomena alam, gerhana matahar, 20 Mei 2012. Ini merupakan gerhana matahari pertama tahun ini. Namun untuk wilayah Indonesia bukan penampakan seperti cicin yang terlihat melainkan gerhana matahari sebagian. Beginilah berita yang dirilis oleh SoloPos selasa 8/5/2012 silam (www.solopos.com) menunjukkan antusias masyarakat menyaksikan gerhana. Lantas apa itu gerhana dan ada apa dibalik itu semua? Gerhana bukan kata pendatang baru di telinga kita, ia kerap kali hinggap dan membuat penasaran kita ingin menyaksikannya. Gerhana merupakan fenomena astronomi, yang mana sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Gerhana tidak hanya terjadi pada matahari atau bulan melainkan juga pada benda angksa lainnya. Namun, istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana). Pada tulisan kali ini kita tidak membahas tentang gerhana secara sains karena sudah banyak yang membicarakannya, bahkan sejak dahulu Ibnu Hajar rahimahullah dan lainnya sudah membicarakan penyebab alamiah terjadinya gerhana dalam kitabnya ( Fathul Bari). Namun lebih jauh daripada itu kita akan berbicara tentang hikmah gerhana, apa tujuan dibalik fenomena gerhana, dan apa yang harus kita lakukan jika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan, karena hanya itu yang dapat kita saksikan. Hikmah dibalik gerhana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunhnya matahari dan bulan merupakan bukti kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana untuk menunjukkan kematian atau kelahiran seseorang. Namun, lebih dari itu, Allah melakukannya untuk mengigatkan hambanya agar kembali sadar dan takut pada Allah”. (HR. Bukhari: 1048). Dalam hadits ini sangat jelas tujuan gerhana bukan untuk hal sepele, diberitakan di media kemudian...

CINTA DUNIA

Cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah Ta’ala dan berdzikir kepadaNya, barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya dia termasuk dalam kelompok orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah (mengingat Allah), pasti akan dikuasai oleh setan dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan padahal ia baru melakukan sedikit saja atau bahkan tidak melakukannya sama sekali. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata :”Bagi semua orang, dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan”. Ambisi Besar terhadap Dunia Cinta dunia itu pangkal dari segala kesalahan dan pasti merusak agama ditinjau dari berbagai sisi, diantaranya : 1.Mengakibatkan pengagungan terhadap dunia secara berlebihan, padahal ia di sisi Allah sangatlah remeh, dan termasuk dosa yang sangat besar mengagungkan sesuatu yang di anggap remeh oleh Allah. 2.Allah telah melaknat, memurkai dan membencinya, kecuali yang ditujukan untuk Allah. barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci Allah berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa dan kemurkaan dari Allah orang yang cinta dunia akan lebih cenderung menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya, sehinggga ia terjatuh dalam kesalahan, yaitu menjadikan sarana sebagai tujuan dan berusaha untuk mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Allah Ta’ala berfirman “ Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16) demikianlah bahwa cinta dunia dapat menghalangi seseorang dari pahala, merusak...